Penyelesaian
konflik dalam keluarga
Erisa
Sulastri
Manusia
selalu dihadapkan pada berbagai permasalahan hidup[1], konflik
merupaakn suatu permasalahan dalam hidup, dalam hubungan setiap individu akan
selalu muncul yang namanya konflik tak terkecuali dalam hubungaan keluarga.
Konflik seringkali dipandang sebagai perselisihan yang bersifat permusuhan dan
membuat hubungan tidak berfungsi dengan baik[2].
Namun hidup manusia memang untuk diuji oleh allah[3], walaupun
demikian berbagai kajian menunjukan bahwa konflik tidak selalu berakibat buruk.
Selain dapat berakibat buruk, konflik juga dapat menimbulkan hal-hal yang positif[4].
Konflik
mencerminkan adanya suatu ketidak cocokan (incompatibillity), baik ketidak
cocokan karena berlawanan maupun karena perbedaan. Selain berpangkal pada
ketimpangan alokasi sumber day ekonomi dan kekuasaan, konflkik juga bersumber
pada perbedaan nilai dan identitas. Kesalahan persepsi dan kesalahan komunikasi
turut berperan dalam proses evaluasi ketidak cocokan dalamhubungan. Oleh karena
itu konflik berjalan ke arah positif atau negatiftergantung pada aa atau
tidaknya suatu proses yang mengarah pada saling pengertia. Namun adakalanya suatukonflik
terjadi sekedar hanya untuk menyalurkan naluri agresif, untuk berjuang atau
melawan tanpa tau atas dasar apa. Yang demikian ini biasanya akan menyulitkan
proses negosiasi.
Dalam
hubungan interpersonal konflik terjadi karena adanya ketidakcocokan perilaku
atau tujuan. Ketidak cocokan akan terungkap ketika seseorang secara terbuka
menentang tindakan atau pernyataan orang lain. Thomas (11992) mendefinisikan
bahwa konflik sebagai proses yang bermula ketikas salahsatu pihak mengalahkan
atau berusaha mengalahkan kepentingannya.
Konflik
dalamhubungan interprinadi ( misalnya, dengan teman, rekan kerja, tetangga,
suami/istri dan orangtua/anak ) merupakan sesuatu yng tidak bisa dielakanbahkan
semakin tinggi saling ketergantungan semakin menigkat pula kemungkinan terjadi
konflik, jadi semakin dekat hubunannya semakin berpotensi untuk terjadi konflik
(Dwyre, 2000).
Keluarga merupakan salah satu tempat
sosial yang hubungan antar keluarga terdapat saling ketergantungan yang tinggi.
Oleh karena itu, konflik dalam keluarga merupakan suatu kepercayaan. Konflik
dalam keluarga terjadi karena adanya prilakuoposisi atau ketidaksetujuananatar
anggota kelurga. Prevalensi konflik dalam kluarga secara berturut-turut adalah
konflik sibling. Konflik orangtua anak dan konflik antar pasangan (sillars dkk,
2004). Pada umumnya hubunga antar keluarga merupakan hubungan yang sangat dekat
atau memiliki intensitas yang sangat tinggi. Keterkaitan antar pasangan ,
orangtua dengan anak atau sesama audara berada dalam tinggakt tinggi dalam hal
kelekatan, afeksi, maupun komitmen. Ketika masalah muncul dalam sifat hubungan
yang demikian, perasaan positif yang selama ini dibangun secara mendalam dapat
berubah menjadisuatu perasaan negatif yang mendalam juga, pengkhianatan dalam
hubungan kasih sayang, misalnya perselingkuhan atau perudungan seksual terhadap
anak, dapat menimbulkan rasa benci yang sangat dalam seperti cinta yang tumbuh
sebelum terjadinya suatu pengkhianatan. Pada dasarnya hubungan dalam keluarga
merupakan hubungan yang kekal, orang tua akan tetap menjadi orang tua,
de,mikian juga dengan saudara. Tiak ada istilah mantan orang tua ataumentan
saudara. Oleh karena itu dampak yang dirasakan dari konflik keluarga sering
kali bersifat jangka panjang. Bahkan jika penyelesaian masalah dengan cara
dihentikan maka akan terjadi suatu perceraian.[5]
Konflik
antara orangtua dengan anak sering terjdi dalam keluarga, anak sering
menganggap bahwa orangtuanya terlalu mengekang dia dengan banyak peraturan,
tetapi secara naluriah orang tua akan
menganggap anaknya sebagai bangian paling penting dalam hidupnya. Dalam posisi
tersebut orang tua akan berusaha mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan
anaknya. Seharusnya dalam hubungan orang tua dan anak tidak terjadi konflik
karena orang tua akan selalu melakukan apa saja demi anaknya, tetapi karena
banyaknya tuntutan dari orang tua terhadap sikap anaknya yang dapat menimbulkan
konflik orang tua dengan anakya. Agar suatu konflik tidak menjadi pandangan negatif harus ada rasa
saling percaya dalam setiap anggota keluarga.
Penyelesaian masalah menurut Olson
dan olson (2000), penyelesaian konflik antar individu atau orang tua dengan
anak menjadi lima macam, yaitu pemburu ( pursure, individu yang berusaha
membangun ikatan kelurga yang lebih dekat), penghindar (distancer individu yang cenderung mengambil
jarak secara emosi), pecundang (underfunctioner, adalah individu yag gagal
menunjukan kompetensi dan aspirasinya), penakluk ( oferfunctioner, adalah
individu yang cenderung mengambil alih dan merasa lebih tadu yang terbaik dar
oranglain), dan pengutuk ( balamer, adalah individu yang selalu menyalahkan
oranglain atau keadaan).[6]
Sedangkan
Kurdek mengajukan 4 macam gaya resolusi konflik, yaitu penyelesaian masalah
secara positif, pertikaian, selalu membela diri, menyerang, dan lepas kontrol,
penarikan diri, dan selalu mengalah. Namun sebaiknya ketika terjadi konflik
dalam interaksi, maka sebaiknya harus mencari akar permasalahan tersebut dan
berusaha untuk berbicara secara baik-baik untuk mencapai suatu perpecahan permasalahan
yang tepat.[7]