Selasa, 30 Mei 2017

artikel penyelesaian konflik dalam keluarga


Penyelesaian konflik dalam keluarga
Erisa Sulastri
Manusia selalu dihadapkan pada berbagai permasalahan hidup[1], konflik merupaakn suatu permasalahan dalam hidup, dalam hubungan setiap individu akan selalu muncul yang namanya konflik tak terkecuali dalam hubungaan keluarga. Konflik seringkali dipandang sebagai perselisihan yang bersifat permusuhan dan membuat hubungan tidak berfungsi dengan baik[2]. Namun hidup manusia memang untuk diuji oleh allah[3], walaupun demikian berbagai kajian menunjukan bahwa konflik tidak selalu berakibat buruk. Selain dapat berakibat buruk, konflik juga dapat menimbulkan hal-hal yang positif[4].
Konflik mencerminkan adanya suatu ketidak cocokan (incompatibillity), baik ketidak cocokan karena berlawanan maupun karena perbedaan. Selain berpangkal pada ketimpangan alokasi sumber day ekonomi dan kekuasaan, konflkik juga bersumber pada perbedaan nilai dan identitas. Kesalahan persepsi dan kesalahan komunikasi turut berperan dalam proses evaluasi ketidak cocokan dalamhubungan. Oleh karena itu konflik berjalan ke arah positif atau negatiftergantung pada aa atau tidaknya suatu proses yang mengarah pada saling pengertia. Namun adakalanya suatukonflik terjadi sekedar hanya untuk menyalurkan naluri agresif, untuk berjuang atau melawan tanpa tau atas dasar apa. Yang demikian ini biasanya akan menyulitkan proses negosiasi.
Dalam hubungan interpersonal konflik terjadi karena adanya ketidakcocokan perilaku atau tujuan. Ketidak cocokan akan terungkap ketika seseorang secara terbuka menentang tindakan atau pernyataan orang lain. Thomas (11992) mendefinisikan bahwa konflik sebagai proses yang bermula ketikas salahsatu pihak mengalahkan atau berusaha mengalahkan kepentingannya.
Konflik dalamhubungan interprinadi ( misalnya, dengan teman, rekan kerja, tetangga, suami/istri dan orangtua/anak ) merupakan sesuatu yng tidak bisa dielakanbahkan semakin tinggi saling ketergantungan semakin menigkat pula kemungkinan terjadi konflik, jadi semakin dekat hubunannya semakin berpotensi untuk terjadi konflik (Dwyre, 2000).
            Keluarga merupakan salah satu tempat sosial yang hubungan antar keluarga terdapat saling ketergantungan yang tinggi. Oleh karena itu, konflik dalam keluarga merupakan suatu kepercayaan. Konflik dalam keluarga terjadi karena adanya prilakuoposisi atau ketidaksetujuananatar anggota kelurga. Prevalensi konflik dalam kluarga secara berturut-turut adalah konflik sibling. Konflik orangtua anak dan konflik antar pasangan (sillars dkk, 2004). Pada umumnya hubunga antar keluarga merupakan hubungan yang sangat dekat atau memiliki intensitas yang sangat tinggi. Keterkaitan antar pasangan , orangtua dengan anak atau sesama audara berada dalam tinggakt tinggi dalam hal kelekatan, afeksi, maupun komitmen. Ketika masalah muncul dalam sifat hubungan yang demikian, perasaan positif yang selama ini dibangun secara mendalam dapat berubah menjadisuatu perasaan negatif yang mendalam juga, pengkhianatan dalam hubungan kasih sayang, misalnya perselingkuhan atau perudungan seksual terhadap anak, dapat menimbulkan rasa benci yang sangat dalam seperti cinta yang tumbuh sebelum terjadinya suatu pengkhianatan. Pada dasarnya hubungan dalam keluarga merupakan hubungan yang kekal, orang tua akan tetap menjadi orang tua, de,mikian juga dengan saudara. Tiak ada istilah mantan orang tua ataumentan saudara. Oleh karena itu dampak yang dirasakan dari konflik keluarga sering kali bersifat jangka panjang. Bahkan jika penyelesaian masalah dengan cara dihentikan maka akan terjadi suatu perceraian.[5]
Konflik antara orangtua dengan anak sering terjdi dalam keluarga, anak sering menganggap bahwa orangtuanya terlalu mengekang dia dengan banyak peraturan, tetapi secara naluriah orang tua  akan menganggap anaknya sebagai bangian paling penting dalam hidupnya. Dalam posisi tersebut orang tua akan berusaha mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan anaknya. Seharusnya dalam hubungan orang tua dan anak tidak terjadi konflik karena orang tua akan selalu melakukan apa saja demi anaknya, tetapi karena banyaknya tuntutan dari orang tua terhadap sikap anaknya yang dapat menimbulkan konflik orang tua dengan anakya. Agar suatu konflik tidak  menjadi pandangan negatif harus ada rasa saling percaya dalam setiap anggota keluarga.
            Penyelesaian masalah menurut Olson dan olson (2000), penyelesaian konflik antar individu atau orang tua dengan anak menjadi lima macam, yaitu pemburu ( pursure, individu yang berusaha membangun ikatan kelurga yang lebih dekat), penghindar  (distancer individu yang cenderung mengambil jarak secara emosi), pecundang (underfunctioner, adalah individu yag gagal menunjukan kompetensi dan aspirasinya), penakluk ( oferfunctioner, adalah individu yang cenderung mengambil alih dan merasa lebih tadu yang terbaik dar oranglain), dan pengutuk ( balamer, adalah individu yang selalu menyalahkan oranglain atau keadaan).[6]
Sedangkan Kurdek mengajukan 4 macam gaya resolusi konflik, yaitu penyelesaian masalah secara positif, pertikaian, selalu membela diri, menyerang, dan lepas kontrol, penarikan diri, dan selalu mengalah. Namun sebaiknya ketika terjadi konflik dalam interaksi, maka sebaiknya harus mencari akar permasalahan tersebut dan berusaha untuk berbicara secara baik-baik untuk mencapai suatu perpecahan permasalahan yang tepat.[7]


[1] Erhamwilda. Konseling islam. (Yogyakarta: Graha ilmu, 2009) Hlm.47, cet. i
[2] Sri lestari. Psikologi keluarga.(yogyakarta:kencana, 2012) hlm. 99
[3] Erhamwilda. Op-cit, hlm 47
[4] Sri lestari. Op-cit, hlm. 100
[5] Ibid, hlm. 103
[6] Ibid, hlm. 115
[7] Ibid, hlm. 117

Tidak ada komentar:

Posting Komentar